Contoh Kasus

0

Pada suatu hari seorang mahasiswi bernama putri sedang merasa kesal dan jen gkel kepada temannya, tapi dia tidak mengatakan bahwa ia sedang kesal dan jengkel kepada temannya tersebut. Dia mempunyai kebiasaan ketika dia marah dia hanya diam. Bila dia sudah sampai di rumah, ia langsung mengunci diri di dalam kamarnya. Dia menutup dirinya dengan selimut, lalu menangis dibalik selimut tersebut. Jika ketika rasa kesal dan jengkelnya tersebut sudah mencapai puncak, maka ia akan melempar barang yang ada di dalam kamar tersebut. Dia akan terus melakukan hal tersebut sampai ia merasa sudah cukup puas. Setelah dia merasa puas mengeluarkan amarahnya tersebut, maka ia akan keluar dari kamarnya tersebut dengan hati yang sudah tenang, dia tidak menunjukkan bahwa dia sedang jengkel ataupun marah.

Ketika Putri tiba di kampus dan bertemu dengan orang yang membuatnya jengkel tersebut, dia hanya diam dan tidak menyapa maupun menegurnya. Sedangkan  orang yang sudah membuatnya jengkel tersebut tidak mengetahui jika putri merasa jengkel kepadanya. Oleh sebab itu dia bersikap seperti biasa yaitu menyapa putri seperti biasanya. Ketika Putri disapa dan ditanya oleh orang tersebut dia hanya membalas dengan jawaban yang singkat dan berbicara seperlunya saja.

Iklan

Paradigma Psikologi Kepribadian Psychoanalitic

0

freudSigmund Freud merupakan salah satu tokoh intelektual yang terkenal pada abad dua puluh karena teori ciptaannya yaitu teori psikoanalitik. Kelemahan apapun yang ada pada teori ini tetap saja penjelasan kepribadian menurut psikoanalitik merupakan teori kepribadian yang paling komprehensif dan berpengaruh mengenai kepribadian yang pernah dibuat manusia. Cakupan pengaruhnya lebih luas dari psikologi, yaitu mempengaruhi ilmu sosial, kemanusiaan, seni, dan masyarakat pada umumnya. Meskipun teori psikoanalitik memiliki peranan yang kurang sentral dalam psikologi sekarang dibandingkan pada masa 40 atau 50 tahun yang lalu, banyak gagasannya telah diserap kedalam pola pikir psikologi.

 

sigmund-freud-picture

 

Sigmund Freud mengawali karir ilmiahnya sebagai ahli neurologi menggunakan metoda hipnosis. Karena sering gagal, ia menggunakan metoda baru, yaitu metoda asosiasi bebas. Dalam metoda ini, pasien diperintahkan untuk mengatakan apa saja yang ada di pikirannya. Dari sini Sigmund Freud menemukan tema konsisten yang merupakan manisfestasi keinginan dan rasa takut bawah sadar.
Freud menganggap kepribadian itu terdiri dari 3 bagian:
1. alam sadar (kesadaran)
2. alam prasadar (keprasadaran)
3. alam tak sadar (ketaksadaran)
Sigmund Freud menyamakan pikiran manusia seperti gunung es Bagian kecil di atas permukaan air adalah kesadaran. Sedangkan massa yang jauh lebih besar di bawah permukaan air adalah bawah sadar, suatu gudang untuk impuls, keinginan dan kenangan yang tidak dapat diraih yang mempengaruhi pola pikir manusia.

Sigmund Freud bukan orang pertama yang menemukan pengaruh mental bawah sadar. Shakespeare pernah memasukkannya ke dalam pertunjukannya. Tetapi Freud merupakan orang pertama yang menekankan kepentingan primer dalam kehidupan sehari-hari.
Freud menyatakan bukan hanya semua peristiwa psikologi disebabkan, tetapi sebagian besar darinya disebabkan oleh dorongan yang tidak terpuaskan dan keinginan yang tidak disadari.
Di dalam publikasinya, The Psychopathology of Everyday Life, Freud berpendapat bahwa mimpi, humor, pelupaan, kepeleset lidah berfungsi untuk mengurangi ketegangan psikologi dan memuaskan impuls dan keinginan yang tidak terpenuhi.
Psikoanalisis merupakan sistem psikologi yang paling dikenal luas meskipun tidak secara universal dipahami.Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia. Sigmund Freud, pendiri psikoanalisis, adalah orang yang pertama berusaha merumuskan psikologi manusia. Ia memfokuskan perhatiannya kepada totalitas kepribadian manusia.
Psikoanalisis memperkenalkan studi tentang proses-proses ketidaksadaran yang mempengaruhi aktivitas manusia. Psikoanalisis menekankan tujuan keseimbangan homeostatik energi-energi ketidaksadaran dalam kepribadian.
Psikoanalisis mengembangakan konsep aktivitas mental lebih luas dari pada sistem psikologi manapun. Sebagai representasi utama dari kebergantungan ekstrim pada aktivitas mental untuk menjelaskan kepribadian, psikoanalisis terpisah dari berbagai gerakan lain dalam psikologi kontemporer. Selain itu, psikoanalisis tidak lahir dari penelitian akademis, sebagaimana sistem-sistem lain, namun merupakan produk konsekuensi terapan praktik klinis. Penyusunan obeservasi yang dilakukan freud bertujuan untuk menyusun berbagai pendekatan-pendekatan terapi yang sangat dibutuhkan.
Menurut Freud, perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam kepribadian manusia, yaitu:
1. Id, id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan logis manusia – pusat instink (hawa nafsu – dalam kamus agama). Ada dua instink domonan : (1) Libido – instink reproduktif yang menyediakan energi dasar untuk kegiatan-kegiatan manusia yang konstruktif ; (2) Thanatos – instink destruktif dan agresif. Yang pertama dsebut juga instink kehidupan (eros), yang dalam konsep Freud bukan hanya meliputi dorongan seksual, tetapi juga segala hal yang mendatangkan kenikmatan termasuk kasih ibu, pemujaan pada Tuhan, dan cinta diri (narcism). Bila yang pertama adalah instink kehidupan, yang kedua merupakan instink kematian. Semua motif manusia adalah gabungan eros dan thanatos. Id bergerakberdasarkan prinsip kesenangan (pleasure principle), ingin segera memenuhi kebutuhannya. Id bersifat egoistis, tidak bermoraldan tidak mau tahudengan kenyataan. Id adalah tabiat hewani manusia.
2. Ego, ego berfungsi menjembatani tuntutan id dengan realitas di dunia luar. Ego adalah mediator antara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional dan realistik. Ego-lah yang menyebabkan manusia mampu menundukan hasrat hewaninya dan hidup sebagai wujud yang rasional (pada pribadi yang normal).
3. Superego, Superego adalah polisi kepribadian, mewakili yang ideal. Superego adalah hati nurani yang merupakan internalisasi dari norma-norma sosial dan kultural masyarakatnya.Ia memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang tak berlainan ke alam bawah sadar. Baik Id maupun superego berada dalam bawah sadar manusia. Ego berada di tengah, antara memenuhi desakan Id dan peraturan superego. Untuk mengatasi ketegangan, ia dapat menyerah pada tuntutan id, tetapi berarti dihukum superego dengan perasaan bersalah. Untuk menghindari ketegangan, konflik, atau frustasi ego secara tak sadar lalu menggunakan mekanisme pertahanan ego, dengan mendistorsi realitas.
Singkatnya dalam Psikoanalisis manusia merupakan interaksi antara komponen biologis, komponen psikologis (ego), komponen sosial (superego); atau unsur animal, rasional, dan moral (hewani, akali, nilai).

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Menurut Freud perkembangan kepribadian berjalan melalui beberapa fase.
1. Fase Oral adalah fase pertama yang menunjukan bahwa bayi itu mendapat kepuasan melalui mulutnya. Rasa lapar mendorongnya mengenal dunia luar melalui mulutnya. Menelan sesuatu berarti memberi kepuasan dan memuntahkan sesuatu mengakibatkan ketegangan.
2. Fase Anal-sadistik menunjukan pada kesenangan dalam mengeluarkan tinja dan kencing. Dalam fase anal bayi dituntut agar melepaskan salah satu aspek kebebasannya, yaitu ia harus mengeluarkan tinja dan air seninya pada waktu dan tempat tertentu.
3. Fase Falik mulai memperoleh kenikmatan dari memainkan genitalnya. Mereka mengamati perbedaan antara perempuan dan laki-laki dan mulai mengarahkan impuls seksualnya yang mulai bangkit ke arah orangtua yang berlawanan jenis. Selama tahap falik inilah anak harus memecahkan konflik Oedipal. Freud mendeskripsikan konflik ini secara jelas dalam kasus anak laki-laki, impuls seksual anak laki-laki ditujukan kepada ibu. Hal ini menyebabkan ia menganggap ayahnya sebagai saingan untuk mendapatkan kasih sayang ibunya. Menurut Freud, anak laki-laki juga takut bahwa ayahnya akan membalas impuls seksual itu dengan mengkastrasinya. Freud menanamkan rasa takut ini sebagai kecemasan kastrasi (castration anxiety) dan dianggap merupakan prototipe semua kecemasan yang timbul selanjutnya yang dipicu oleh dorongan internal yang dilarang.

Jadi menurut Freud anak itu dapat melakukan kegiatan erotik sejak lahir. Fase oral yang ditandai oleh kegiatan erotik, yang berkisar pada mulut dan bibir dengan manifestasi mengisap, menggigit dan mengunyah, berlangsung mulai lahir sampai ke tahun ketahun yang kedua. Fase anal yang ditandai dengan kegiatan erotik pada daerah anus berjalan dari umur 2 sampai 4 tahun. Fase falik mulai umur 3 tahun dan berlangsung sampai kira-kira akhir tahun ke-5. Kegiatan erotiknya, secara psikologis maupun fisiologis dihubungkan dengan kegiatan dan perasaan yang bertalian dengan air seni.

DINAMIKA KEPRIBADIAN
Freud berpendapat manusia sebagai sistem yang kompleks memakai energi untuk berbagai tujauan seperti bernafas, bergerak, mengamati, dan mengingat. Kegiatan psikologik juga membutuhkan energi, yang disebutnya energi psikik (psychic energy) – energi yang ditransform dari enerji fisik melalui id beserta insting-instingnya. Ini sesuai dengan kaidah fisika, bahwa energi tidak dapat hilang, tetapi dapat pindah dan berubah bentuk.
1. Insting Sebagai Energi Psiki, Insting adalah perwujudan psikologik dari kebutuhan tubuh yang menuntut pemuasan.
2. Kecemasan, kecemasan adalah variabel penting dari hampir semua teori kepribadian. Kecemasan sebagai dampak dari konflik yang menjadi bagian kehidupan yang tak terhindarkan, dipandang sebagai komponen dinamika kepribadian yang utama. Kecemasan adalah fungsi ego untuk memperingatkan individu tentang kemungkinan datangnya suatu bahaya sehingga dapat disiapkan reaksi adaptif yang sesuai
3. Mekanisme Pertahanan (Defense Mechanism), fungsi utama psikodinamika kecemasan adalah membantu individu menolak impuls instingtif yang tidak dikehendaki masuk kesadaran, dan memberi kepuasan kepada impuls itu secara tidak langsung.

GAMBARAN PSIKOANALITIK KEPRIBADIAN MANUSIA
Menurut teori psikoanalitik, kepribadian kita pada dasarnya ditentukan oleh dorongan bawaan dan oleh peristiwa lingkungan dalam tahun pertama kehidupan. Hanya psikoanalisis ekstensif yang dapat menghilangkan sebagian konsekuensi negatif dari pengalaman sebelumnya, dan hanya dapat melakukannya dalam cara yang terbatas. Kita keluar dari teori psikoananlitik sebagai makhluk yang relatif pasif. Bagi Freud, kesehatan psikologi terdiri dari kendali ego yang kuat namun fleksibel terhadap impuls id. Seperti yang ditulis oleh Freud, tujuan psikoanalisis adalah memastikan bahwa “dimana id berada, disitulah ego akan berada”(1933).

PANDANGAN PSIKOANALITIK MENURUT TOKOH LAIN
1. Carl Gustav Jung (1875-1961)
Jung lebih menekankan teori psikoanalis pada ketidaksadaran kolektif dan ketidaksadaran pribadi yang masing-masing menyimpan pengalaman dari masa sebelum dilahirkan dan masa kanak-kanak (termasuk pengalaman dalam hubungan orangtua di masa bayi) yang berpengaruh pada ego yang merupakan inti kesadaran pada masa kini. Jung berteori bahwa ada tiga macam tipe kepribadian: introvert (cenderung menyendiri), ekstrovert (terbuka dan mudah bergaul), dan ambivert ambivalen (di antara introvert dan ekstrovert). Jung juga membagi tipe reaksi manusia ke dalam empat jenis, yaitu rasional (akal), intuisi (perkiraan), emosi (perasaan), dan sensasi (pengindraan).

2. Erik Erikson
Erik Homburger Erikson dilahirkan di Frankfurt, Jerman, pada tahun 1902. Erik Erikson sangat dikenal dengan tulisan-tulisannya di bidang psikologi anak. Berangkat dari teori tahap-tahap perkembangan psikoseksual dari Freud yang lebih menekankan pada dorongan-dorongan seksual, Erikson mengembangkan teori tersebut dengan menekankan pada aspek-aspek perkembangan sosial. Dia mengembangkan teori yang disebut theory of Psychosocial Development (teori perkembangan psikososial) dimana ia membagi tahap-tahap perkembangan manusia menjadi delapan tahapan.
Beberapa buku yang pernah ditulis oleh Erikson dan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat, diantaranya adalah: (1) Young Man Luther: A Study in Psychoanalysis and History (1958), (2) Insight and Responsibility (1964), dan Identity: Youth and Crisis (1968).
Menurut Erikson ada delapan krisis dalam perkembangan kepribadian manusia.
 0-1 th = Kepercayaan lawan ketidakpercayaan diri
 1-3 th = Otonomi (kemandirian) lawan rasa malu dan ragu (takut gagal)
 3-6 th = Inisiatif lawan rasa bersalah
 6-12 th = Industrius (percaya diri karena keberhasilan social dan akademik) lawan rasa rendah diri
 12-20 th = Identitas lawan kerancuan peran
 20-40 th = Keintiman lawan kesendirian jika kurang dapat bergaul
 40-65th= Generativitas (produktif dalam kerja dan keluarga) lawan stagnasi (kemandekan)
 tua = Integritas ego lawan keputusaan.

3. Karen Horney (1967)
Pandangan Horney ini merupakan terobosan yang kelak akan membuka peluang terhadap penelitian-penelitian tentang psikologi wanita, antara lain oleh Sandra Bem yang terkenal dengan temuannya bahwa secara psikologik disamping orang yang bersifat maskulin dan feminin, terdapat juga orang yang bersifat androgin, yaitu orang (bisa laki-laki atau perempuan). Berpendapat bahwa psikologi wanita dan psikologi pria berbeda yang mengakibatkan perlakuan yang berbeda yang diberikan kepada anak laki-laki dan perempuan oleh keluarga dan masyarakat semasa kanak-kanak membuat mereka menjadi maskulin dan feminism.

4. Alfred Adler (1929-1964)
Alfred Adler dilahirkan pada tanggal 7 Pebruari 1870 di Viena (Austria) dan wafat pada tanggal 28 Mei 1937 di Aberdeen (Skotlandia). Pada tahun 1907, Adler menulis sebuah paper berjudul “Organ Inferiority” yang menjadi pemicu rusaknya hubungan Freud dengan Adler. Dalam tulisan tersebut Adler mengatakan bahwa setiap manusia pada dasarnya mempunyai kelemahan organis. Berbeda dengan hewan, manusia tidak dilengkapi dengan alat-alat tubuh untuk melawan alam. Kelemahan-kelemahan organis inilah yang justru membuat manusia lebih unggul dari makhluk-makhluk lainnya, karena mendorong manusia untuk melakukan kompensasi (menutupi kelemahan). Adler juga tidak sependapat dengan teori psikoseksual Freud. Pada tahun 1911, Adler meninggalkan kelompok diskusi, bersama dengan delapan orang koleganya, dan mendirikan sekolah sendiri. Sejak itu ia tidak pernah bertemu lagi dengan Freud.
Adler menekankan pada pentingnya masa depan, yang terpenting dalam menentukan perilaku adalah tujuan (telos) hidup, yaitu pengakuan dari lingkungannya (Geltungstrieb) melaui kompensasi (menutup suatu kelemahan dengan suatu hal lain). Kelemahan manusia yang paling besar adalah anggota-anggota tubuhnya (organ inferiority) sehingga menimbulkan perasaan rendah diri (inferiority feeling). Jadi, dasar teori Adler adalah perasaan rendah diri dan kompensasi. Contohnya peran dan persaingan dengan saudara sekandung menentukan perkembangan kepribadian.

5. William Schutz (1955-1958)
Ia adalah seorang psikoanalisis yang mengembangkan tipe-tipe kepribadian berdasarkan pengalaman masa kanak-kanaknya. Ada tiga tipe yang berkenaan dengan hubungan antar-pribadi seseorang, yaitu:
1. Tipe kontrol
2. Tipe inklusi
3. Tipe afeksi
a. Tipe kontrol yang expressed : orang yang dalam hubungannya dengan orang lain ingin mengatur dan menguasai orang lain.
b. Tipe inklusi : jenis yang expressed cenderung selalu ingin melibatkan (mengajak) orang lain.
c. Tipe kontrol wanted: orang yang dalam hubungannya dengan orang lain cenderung senang diatur, diberi petunjuk dan pengarahan.

Sumber Referensi:

• Alwisol. (2008). Psikologi Kepribadian. Malang: UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah.
• Atkinson, Rita L dkk. 1999. Pengantar Psikologi edisi kedelapan jilid dua. Jakarta: Erlangga.
• Atkinson, Rita L dkk. Pengantar Psikologi edisi kesebelas jilid dua. Jakarta: Interaksara.
• Bertens, K. (2006). Psikoanalisis Sigmund Freud. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
• Ciccarelli, S. K., White, N. J. (200). Psychology. New Jersey: Pearson.
http://en.wikipedia.org/wiki/Personality_psychology
http://en.wikipedia.org/wiki/Sigmund_Freud
• Koeswara, E. 1991. Teori-teori Kepribadian. Bandung: Eresco
Feist, Jess & Feist, G. J. (2006). Theories of Personality, Sixth ed. Boston: Mc-Graw Hill.
• Maramis, Willy F. 2006. Perilaku Dalam Pelayanan. Perpustakaan Nasional Katalog Dalam Terbitan.
• Moore dan Fine. (1968). a Glossary of Psychoanalytic Terms and Concepts. halaman 78
• Sarwono, Sarlito Wirawan. Psikologi Sosial Individu dan Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta : Erlangga.
• Sujanto, Agus, Lubis, Halem, Hadi, Taufik. 2006. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Bumi Aksara
• Suryabrata, S. (2000). Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.